SEKILAS INFO
: - Rabu, 03-06-2020
  • 1 minggu yang lalu / Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru SMA Negeri 3 Yogyakarta dapat dilihat pada menu PPDB
  • 3 minggu yang lalu / Penilaian Akhir Tahun (PAT) 2020 dilaksanakan tanggal 04 – 15 Juni 2020. Jadwal dapat dicek pada menu download
  • 4 minggu yang lalu / Libur akhir Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H mulai tanggal 18 – 24 Mei 2020
Sejarah Sekolah dan Padmanaba

SMA Negeri 3 Yogyakarta tidak lepas dari nama besar Padmanaba. Secara umum, khalayak lebih terkesan dengan nama Padmanaba daripada SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sekolah yang menempati bangunan dengan luas 3.600 m2 di atas lahan seluas 23.798 m2, di kawasan Kotabaru, pada zaman kolonial Belanda sampai pecah Perang Dunia II (Desember 1941) dikenal sebagai AMS (Algemene Middelbare School) Afdelling B.

Pendidikan yang diselenggarakan waktu itu lebih berorientasi pada kepentingan pemerintah kolonial. Siswa sekolah ini umumnya anak-anak bangsawan (elite pribumi) dan anak-anak pegawai pemerintah kolonial. Perlakuan diskriminatif berkaitan dengan ras dan status sosial, sistem pendidikan yang menekankan aspek disiplin yang ketat serta sikap patuh terhadap pemerintahan kolonial menghasilkan generasi dengan sikap rendah diri di kalangan bangsa pribumi terhadap bangsa kulit putih, serta tumbuhnya perasaan pada anak-anak pribumi sebagai warga kelas dua di tanah air sendiri. Hal ini berdampak pada terhambatnya perkembangan intelektualitas bangsa pribumi. Rupanya kondisi seperti ini sengaja dilakukan oleh pemerintah kolonial waktu itu, agar tetap berkuasa di bumi pertiwi.

Berkat rahmat Allah, kalangan anak-anak pribumi yang menjadi siswa di sekolah ini  memiliki kepribadian serta sadar sebagai bangsa yang bermartabat, sehingga tergugah untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa. Dalam perkembangannya, anak-anak pribumi alumni AMS Afdelling B semakin banyak dan tersebar di seluruh nusantara. Tidak sedikit dari mereka tumbuh menjadi tokoh-tokoh masyarakat dan pejuang patriot yang terlibat langsung dalam pasang-surut perjuangan bangsa ini dari prakemerdekaan sampai era reformasi. Mereka merupakan mutiara generasi masa lalu dan teladan bagi generasi penerus.

Alumni AMS Afdelling B tergabung dalam naungan organisasi Keluarga Argabagya, yang sampai sekarang aktif melakukan pertemuan-pertemuan dan kegiatan sebagai aktualisasi kepedulian mereka terhadap dinamika almamater. Salah satu wujudnya yaitu Gedung Pertemuan Argabagya yang berdiri megah di sayap barat gedung sekolah.

Lahirnya Padmanaba

Pada masa pemerintahan pendudukan Jepang  (Juni 1942), AMS B diubah menjadi  SMT (Sekolah Menengah Tinggi) bagian A dan bagian B. Pada 19 september 1942, bertolak dari azas kebersamaan yang tumbuh dari perasaan senasib sebagai bangsa tertindas, tumbuh keberanian sekaligus kesepakatan untuk membentuk wadah berorganisasi bagi keluarga besar pelajar yang ada dengan nama Padmanaba. Melalui organisasi Padmanaba para pelajar mengalami penggodogan mental dan pembentukan sikap patriotisme serta nasionalisme yang mendorong mereka untuk melakukan latihan keprajuritan. Padmanaba ibarat kawah candradimuka bagi terlahirnya ksatria-ksatria pejuang bangsa.

Sebagai bukti sikap ksatria dan kepejuangannya yaitu pada perjuangan perebutan senjata di Kotabaru dari tangan Jepang, kemudian Agresi Militer II pendudukan tentara Belanda atas Kotabaru, serta medan-medan pertempuran yang lain, banyak putra-putra Padmanaba ikut angkat senjata bergabung dengan Tentara Pelajar mengusir Kolonial Belanda. Semburan merah darah pejuang yang gugur merupakan bukti keikhlasan dan kebanggaan mereka mengabdikan hidupnya bagi martabat bangsa. Mereka yang gugur sebagai kusuma bangsa, antara lain, Faridan M. Noto, Suroto Kunto, Sudiarto, Joko Pranoto, Jumerut, Kunarso, Suryadi, dan Purnomo.

Sementara itu, Padmanaba dilihat dari sudut pandang lain mengandung kisah tersendiri yang juga memiliki romantika dalam upaya melahirkan generasi yang memiliki kepribadian pejuang dan watak ksatria. Pada tahun 1942,  Bapak R.J. Katamsi menugaskan para muridnya untuk menggambar. Objeknya teratai merah yang ada di kolam halaman tengah sekolah. Dengan kearifan seorang begawan beliau terlebih dahulu menjelaskan tentang arti dan makna folosofi teratai merah itu. Teratai merah (Nelumbium speciosum) dalam bahasa Sansekerta disebut Padma. Dalam kepercayaan agama bangsa-bangsa  timur, Padma merupakan salah satu lambang sakral untuk banyak hal yang menyangkut masalah kehidupan manusia. Dari kehidupan teratai yang bersahaja dapat ditarik banyak pelajaran. Tak peduli air pasang atau surut, teratai senantiasa di permukaan air, dan tak pernah kotor sekalipun hidup di air keruh. Bunga yang muncul dari dalam air tetap bersih, segar dan indah. Akar yang kait-mengait dalam dasar kolam membuat teratai tidak gampang meninggalkan hidupnya. Semua itu melambangkan sikap kematangan,  kemapanan, kejuangan, serta sikap cinta tanah air yang telah menghidupinya. Teratai merah/lotus melambangkan kesucian. Teratai merah membangun kehidupan harmoni dengan lingkungannya tanpa mengorbankan jatidirinya. Ia tetap bersih sekalipun air di sekelilingnya kotor. Keindahannya terjangkau oleh siapapun dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

Dalam agama Budha sikap semedi Sang Budha Gautama juga digambarkan seperti posisi bunga teratai (Lotus position). Sang Budha duduk di atas singgasana yang disebut “Padmasana” (sana=tempat), atau pusat tempat tumbuh bunga teratai. Padmanaba berarti sesuatu yang pusatnya berbunga teratai, (naba=pusat).  Filosofi lain mengenai bunga teratai pada agama Hindu yaitu padma tumbuh dari pusar Dewa Wishnu ketika terbangun dari semedinya di atas Ananta. Dari padma tersebut kelak akan lahir Dewa Brahma. Padma yang keluar dari pusar dewa Wishnu tadi mempunyai makna folosofi kesucian, keberanian, dan kemajuan. Dalam dunia pewayangan, Wishnu juga Kresna sebagai titisannya disebut juga sebagai Padmanaba. Demikian filosofi teratai merah yang melambangkan cita-cita pertumbuhan menjadi manusia yang suci, beriman, dan taqwa.

Dalam kisah melukis  teratai merah seperti diceritakan di atas, lukisan Suhud dinilai sebagai karya terbaik. Akhirnya, Suhud –dibantu oleh Sulaiman- diberi tugas membuat “logo” organisasi Padmanaba berupa teratai merah, dengan dua kelopak bunga dan delapan daun yang tersusun menjadi dua lapis yang arah keduanya bertolak belakang, seperti logo yang dapat kita lihat sekarang, yang telah disahkan penggunaannya dalam Munas Padmanaba pada tahun 1977. Selain itu, Ksatria pemuda Suhud berhasil pula mempersembahkan lagu Mars Padmanaba, yang senantiasa dikumandangkan sampai saat ini sebagai lagu keluarga Padmanaba.

Sampai saat ini organisasi Padmanaba tetap langgeng, berkembang menjadi  organisasi yang makin tangguh, kompak, dinamis, dan tanggap terhadap kebutuhan pembangunan bangsa dan negara  tercinta.


Teratai Merah Logo Padmanaba

Nama Sekolah dan Kepala Sekolah

Sejak berdiri hingga sekarang SMAN 3 Yogyakarta mengalami pergantian nama dan kepala sekolah. Setelah pada tahun 1942 namanya diubah dari AMS B menjadi SMT  Bagian A dan B, pada tahun 1948 nama sekolah ini diubah menjadi SMA Bagian B. Tahun 1956 bernama SMA III-B. Pada tahun 1964 nama sekolah ini  SMA Negeri 3 Yogyakarta. Sejalan dengan pembaruan pendidikan dan kurikulum, pada tahun 1994, nama sekolah diubah menjadi SMU Negeri 3 Yogyakarta, dan mulai tahun 2004 kembali bernama SMA Negeri 3 Yogyakarta, seiring dengan digunakannya Kurikulum SMA 2004.  Sesuai dengan Pergub DIY Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penulisan Nama Organisasi Perangkat Daerah, penulisan nama sekolah ini adalah SMAN 3 Yogyakarta.

Sejak tahun 1942 sampai sekarang, sekolah ini telah mengalami 21 kali pergantian kepala sekolah. Nama-nama kepala sekolah sejak tahun 1942 sebagai berikut

  1. 1942 – 1945 : Katamsi,
  2. 1945 – 1946 : Dr. Soegarda Poerbokawotjo,
  3. 1946 – 1947 : Dr. Priyono,
  4. 1947 – 1950 : Marsito,
  5. 1950 – 1951 : Nasir Alwi,
  6. 1951 – 1956 : Sjahlan,
  7. 1956 – 1963 : Soecipto,
  8. 1963 – 1971 : Moedjono Probo Pranowo, S.H.,
  9. 1971 – 1976 : Utoyo Darmabrata,
  10. 1976 – 1981 : Haji Muh. Solihin,
  11. 1981 – 1985 : Oetoro,
  12. 1985 – 1987 : Wahyuntana,
  13. 1987 – 1991 : Ariento Sukotjo,
  14. 1991 – 1993 : Mashari Subagijono,
  15. 1993 – 1997 : Soenarto,
  16. 1997 – 2002 : Nursisto,
  17. 2002 – 2004 : H. Mashadi AR.,
  18. 2004 – 2005 : Hj. Sri Ruspita Murni, dan
  19. 2005 – 2007 : Bambang Supriyono, M.M.,
  20. 2007 – 2009 : H. Bashori Muhammad, M.M.,
  21. 2009 – 2018 : Dwi Rini Wulandari, M.M.
  22. 2018 – 2020 : Drs. H. Maman Surakhman, M.Pd..I
Facebook Comments

Pengumuman

Penerimaan Peserta Didik Baru SMA Negeri 3 Yogyakarta tahun ajaran 2020/2021

Kategori

Maps Sekolah

Data Sekolah

SMA Negeri 3 Yogyakarta

NPSN : 20403178

Jl. Yos Sudarso, No. 7, Kotabaru, Yogyakarta
KEC. Gondokusuman
KAB. Kota Yogyakarta
PROV. Daerah Istimewa Yogyakarta
KODE POS 55224
TELEPON 0274 - 512856
FAX 0274 - 556443
EMAIL info@sman3-yog.sch.id
Open chat
Kontak Padmin lewat WhatsApp ?