SEKILAS INFO
: - Kamis, 01-10-2020
  • 3 minggu yang lalu / Stadium Generale tanggal 18 September 2020
  • 3 minggu yang lalu / Pekan Peringatan Hari Padmanaba tanggal 19 September 2020
  • 3 minggu yang lalu / Penilaian Akhir Semester Gasal tanggal 30 Nopember – 9 Desember 2020
Kaca Pepéling : Kaca Pengingat
Share artikel ini di media sosial kamu

Lebih dari delapan bulan sudah pandemi global melanda. Mengobrak-abrik kehidupan sosial masyarakat dunia terkhusus Indonesia. Biasanya tatap muka, tiba-tiba harus melalui dunia maya. Tidak hanya saya dan kamu yang berjuang, tetapi kita semua juga turut andil. Proses adaptasi ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kerja cerdas di samping tetap bekerja keras. Digadang-gadang bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah adalah program efektif untuk memperlambat laju penyebaran virus yang ditemukan akhir tahun 2019. Presiden Jokowi menerapkan program ini hampir di seluruh penjuru negeri, mulai dari kota metropolitan hingga ke desa perbatasan. Namun, sudah siapkah dipukul rata demikian?

Suatu pagi yang cerah ditengah pembatasan jarak sosial, saya tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang pelajar. Bangun pagi, mandi, sarapan, dan bersiap sekolah. Bedanya, tidak perlu memanaskan motor untuk berangkat sekolah. Tinggal duduk manis di meja belajar kamar sambil menatap layar komputer jinjing Hewlett Package ukuran 14 inchi. Tepat pukul 07.15 guru memberikan presensi melalui aplikasi Google Classroom yang saya buka dengan iPad 7th generation. Sebagai seorang pelajar yang tinggal di kota besar dan bersekolah di salah satu sekolah favorit, tidak banyak yang berubah. Mengerjakan tugas dengan Microsoft Office, mengedit video tugas dengan Adobe Premiere Pro, dan mengakses materi pelajaran melalui Google sudah menjadi makanan sehari-hari. Saya tak bisa membayangkan jika semua kemudahan ini tidak ada di genggaman, terutama ketika kebijakan pembelajaran daring ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Belajar dari rumah tak ayal layaknya tugas yang diberikan oleh guru. Nilainya sebagai bahan hasil pembelajaran selama satu semester. Tentu jika menginginkan hasil terbaik, sangat mungkin untuk berperilaku tidak jujur, seperti mencontek. Terlebih lagi guru tidak dapat memantau langsung satu per satu muridnya selama pembelajaran jarak jauh berlangsung. Walaupun guru memberikan rambu-rambu untuk jujur, masih ada siswa yang nakal curi-curi pandang melalui platform pencarian. Tidak semuanya, tapi sebagian besar. Masih dapatkah integritas dipertahankan selama belajar dari rumah? Lagi-lagi pendidikan karakter harus membudaya sejak dini bagi generasi penerus bangsa.

Merdeka belajar yang diusulkan Pak Mendikbud benar menjadi kenyataan. Siswa dituntut untuk mengeksplorasi materi pembelajaran secara mandiri. Dengan begitu, anak Indonesia dapat menjadi lebih kreatif, inovatif, dan berpikir kritis. Akan tetapi, cukupkah sarana dan prasarananya? Bagi masyarakat menengah ke atas yang memiliki infrastruktur yang mendukung, cukup dibilang efektif untuk diterapkan di tengah pandemi global saat ini. Dengan perangkat elektronik keluaran terbaru, kuota melimpah, dan suasana rumah yang nyaman, sama sekali tidak ada hal yang dikeluhkan.

Di sisi lain, dengan adanya sistem jarak jauh, kehidupan sosial di perkotaan jadi dua kali lipat berjarak, individualisme melambung tinggi, dan sifat egois tak terkalahkan. Mobilitas masyarakat metropolitan yang lebih tinggi dibandingkan di desa terkadang melalaikan aktivitas manusiawi seperti makan, istirahat, dan bersih diri. Hal ini akan meningkatkan risiko depresi atau stres. Sebaiknya kegiatan dilakukan secara seimbang tanpa menitikberatkan pada suatu aktivitas. Memanajemen waktu dengan baik juga merupakan solusi untuk menyeimbangkan kegiatan.

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Lain di kota, beda juga dengan daerah pinggiran lainnya. Pernah saya diajak ibu mengajar di tengah program belajar dari rumah. Sekitar 45 km dari pusat kota Yogyakarta, di kaki pegunungan Sewu, Gunungkidul.

Kaki perbukitan yang berdiri kokoh meneguhkan jati dirinya. Udara yang terhirup terasa masih sangat asri tanpa banyak polusi. Suara mesin kendaraan sayup terdengar tak sesering di jalanan kota besar. Ingin rasanya tinggal di lingkungan damai seperti ini.

Ndherek langkung. Dua kata yang diucapkan sambil sedikit membungkukkan kepala.  Ditujukan kepada orang yang lebih tua ketika berpapasan sepanjang perjalanan. Baik yang dikenal dekat maupun sekadar orang lewat.

Sekolah yang kami tuju termasuk sederhana karena muridnya lebih sedikit dibandingkan murid sekolah kota yang berlomba-lomba masuk sekolah favorit. Bahkan, sebagai seorang guru di sana, ibu dapat menghafal sebagian besar muridnya yang berbeda desa saat berpapasan. Tidak seberapa luasnya, sekolah dasar ini hanya memiliki 6 ruang kelas dan 11 tenaga pendidik. Cukup untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi 134 siswanya.

Karena kosong selama pandemi, lingkungan sekolah tampak gersang dengan banyak tanaman-tanaman mati kekeringan. Banyak pintu kelas yang tidak dapat ditutup membuat beberapa hewan melata seperti ular sering berkunjung. Tidak hanya bangunan fisik sekolah yang terlihat kurang terawat, proses belajar dan mengajar juga ikut tersendat.

Pembelajaran jarak jauh bagi mereka yang tidak memliki cukup fasilitas bagaikan merdeka dari belajar sesunguhnya. Mereka yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, semakin meningkatkan intensitas untuk bermain di luar rumah tanpa protokol kesehatan yang dipatuhi. Para orangtua yang menyayangkan hal ini membuat mereka membantu pekerjaan rumah bahkan bekerja untuk menambal kebangkrutan ekonomi keluarga.

Sedangkan mereka yang masih memiliki semangat belajar terus mencoba mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru melalui grup Whatsapp. Bagi yang tidak punya handphone minimal android, ngikut temannya yang punya. Sedangkan sistem pembelajaran yang dianut di tempat ibu mengajar adalah belajar kelompok. Dari 32 siswa per kelas dibentuk sekitar 7-8 kelompok belajar siswa yang tiap minggunya guru akan berkunjung untuk memantau kondisi di lapangan.

Jika kami yang tinggal di perkotaan dapat menggunakan telepon genggam, komputer jinjing, tablet, bahkan Apple keluaran terbaru, mereka bahkan ada yang tidak mempunyai handphone minimal untuk mengakses internet.

Jika kami yang mengaungkan tagar #dirumahaja memiliki berbagai macam hiburan seperti game online, tayangan televisi berwarna 21 inchi, dan berbagai macam film di Netflix, mereka bahkan mencari hiburan harus dengan bertemu teman sepermainannya.

Jika kami yang mampu dengan mudah mengakses video konferensi dengan guru, mengadakan kegiatan jarak jauh, dan menerima tugas serta materi melalui aplikasi Google Classroom, mereka bahkan untuk mendapatkan ilmu satu kalimat harus berjuang memperoleh sinyal yang baik dengan memanjat pohon atau berada di pinggir jalan.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwasannya pandemi global ini membawa banyak perubahan yang mengharuskan kita melakukan adaptasi dengan keadaan sebaik mungkin. Nilai-nilai budaya dan integritas harus tetap dipertahankan bagaimanapun kondisinya. Tidak boleh curang. Tidak boleh menyontek. Tidak boleh dengan cara instan.

Biarpun masyarakat di pedesaan masih harus berjuang menghadapi Covid-19 yang entah kapan selesai, mereka masih bisa menemukan kebahagiaan sejati dengan hal-hal sederhana. Belajar tidak hanya akademik sekolah saja, tetapi menyangkut pembelajaran kehidupan juga. Kebahagiaan sosial masyarakat desa menjadi lebih tinggi di banding masyarakat kota karena pembelajaran kehidupan sosial yang lebih diutamakan. Akan tetapi kebahagian materi lebih dirasakan oleh penduduk perkotaan yang memiliki infrastruktur memadahi. Hanya saja bagaimana cara kita menyeimbangkan keduanya antara kehidupan sosial dan material. Kebahagiaan sejati dapat ditemukan dengan mensyukuri apa yang ada karena banyak orang lain di luar sana yang tidak memiliki sesuatu yang kamu miliki sekarang. Lantas, apa itu kebahagian sejati menurutmu?

 

Kontributor: Aulia Maray Obvius C.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Rembug Padmanaba – “The Economy Vs Coronavirus”

Penerimaan Peserta Didik Baru SMA Negeri 3 Yogyakarta tahun ajaran 2020/2021

Kategori

Maps Sekolah

Data Sekolah

SMA Negeri 3 Yogyakarta

NPSN : 20403178

Jl. Yos Sudarso, No. 7, Kotabaru, Yogyakarta
KEC. Gondokusuman
KAB. Kota Yogyakarta
PROV. Daerah Istimewa Yogyakarta
KODE POS 55224
TELEPON 0274 - 512856
FAX 0274 - 556443
EMAIL info@sman3-yog.sch.id
Open chat
Kontak Padmin lewat WhatsApp ?