Info SMA N 3 Yogyakarta
Rabu, 01 Des 2021
  • Selamat datang di website resmi SMA N 3 "Padmanaba" Yogyakarta School of Leadership

Ambisi yang Sama di Waktu yang Berbeda

Diterbitkan : - Kategori : Kolom Siswa

Oleh: Satya Fadhlan Azhima

Sudah satu tahun pandemi berlangsung, sudah 1 tahun pula sekolah daring dari rumah telah dilakukan. Kebijakan Kemendikbud yang dilaksanakan mulai April 2020 ini telah mengubah sendi-sendi pendidikan siswa-siswi Indonesia dari yang semula berkembang dari sekolah, sekarang perkembangan seorang siswa diserahkan dari rumah. Banyak dari kita sudah mulai jenuh dan malas dalam beraktivitas sekolah daring dari rumah. Namun ada sebuah kisah seorang wanita yang terus mengabdikan dirinya bagi masa depan keempat anak-anaknya. Inilah kisah dirinya.

Wanita ini sebut saja Yunita seorang ibu paruh baya yang memiliki empat anak. Anak-anaknya memiliki usia, karakter, dan kelebihan yang berbeda-beda. Ada seorang kakak pertama yang sudah masuk jenjang SMA, anak kedua yang memasuki kelas tiga SMP, anak ketiga yang baru saja masuk SMP, serta paling kecil berumur lima tahun. Tentu sulit dalam mengatur keempat anaknya tersebut, namun adanya pandemi membawanya untuk terus berusaha bersama suaminya, demi kesuksesan keempat anaknya. Sebelum pandemi berlangsung Yunita yang merupakan ibu rumah tangga memiliki kegiatan sehari-hari yang cukup padat. Bahkan sudah merangkap sebagai seorang guru bagi keempat anaknya di rumah, selain mengurus urusan rumah tangga.

“Ya, biasa urus cuci baju, cuci piring, tapi ngga masak, saya beli kalau itu, biar ada waktunya untuk baca materi anak-anak saya yang kecil, kalau yang gede saya biarin tapi masih saya kontrol.” ujarnya.

Ya, seperti itulah keseharian seorang Yunita sebelum pandemi berlangsung. Ia adalah satu dari ibu yang cukup ambisius dalam urusan persekolahan anak-anaknya. Ranking, tugas, dan hal-hal persekolahan lainnya, seperti organisasi sekolah anaknya pun menjadi perhatian khusus bagi dirinya. Menurutnya alasan dirinya melakukan hal ini karena dulu keluarganya merupakan keluarga yang peduli terhadap pendidikan tak terkecuali pendidikan anak-anaknya.

Kemudian Pandemi COVID-19 melanda Indonesia yang menyebabkan anak-anak Yunita untuk sekolah dari rumah. Bahkan banyak kedai-kedai makanan yang tutup. Bagi Yunita pekerjaan kesehariannya semakin bertambah. Tidak hanya membaca materi, namun juga sebagai pengajar bagi anak-anaknya. Tambah lagi anaknya yang paling kecil sudah masuk ke jenjang TK. Sedangkan anaknya yang ketiga baru memasuki jenjang SMP.

Dalam masa pandemi pembelajaran di jenjang TK berlangsung secara daring sama seperti jenjang lainnya. Namun dari penuturan Yunita terdapat beberapa perbedaan.

“Kalau TK beda sama SMP SMA, kalau TK harus lebih telaten biar bisa masuk ilmunya, dasar soalnya.” Tutur Yunita.

Sehingga setiap pagi, tepat jam 10 ia mempersiapkan anaknya yang paling kecil tersebut untuk mengerjakan tugas dari guru. Saya sempat diperlihatkan kertas berisi tugas-tugas yang dikerjakan sang anak setiap harinya. Tugas-tugasnya sederhana, mulai dari menata mainan hingga melipat bendera Negara Indonesia. Saya pun berkesempatan melihat Yunita membantu anaknya mengerjakan tugas. Pertama ia menyiapkan barang-barang yang perlu dalam mengerjakan tugas seperti pensil dan kertas. Lalu memberitahu anaknya untuk menuliskan nama pada kertas, juga mengajarinya agar rapi. Setelah itu direkamlah video yang dimulai dari perkenalan, menuliskan nama, dan penutup. Ada hal yang menarik, mengapa ia harus mengajarkan anaknya menulis dengan rapi, bukankah sudah bisa menulis saja sudah bagus.

“Ini temen-temennya sudah ada yang bisa soalnya, saya pikir di masa pandemi ini anak-anak bukannya malah menurun tapi meningkat, karena kita tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana teman-temannya belajar.” Statement ini yang menyebabkan saya memberikan judul di atas. Bahwa masa sekolah daring ini persaingan semakin ketat bukan semakin menurun.

Hal ini tidak hanya terjadi pada jenjang TK namun pada anaknya yang sedang masuk SMP terkena dampak persaingan masa pandemi ini.

“Anak saya yang nomer tiga itu kemarin masuk SMP nilainya ngepas dan saya kaget pas tau saingannya kok ngeri-ngeri nilainya.” Kata Yunita.

Sekedar informasi di Provinsi DIY, ujian untuk masuk ke jenjang SMP dan SMA masih dilakukan. Persaingan ketat ini menyebabkan anak ketiganya tidak dapat masuk ke SMP yang diimpikan. Hal itu merupakan suatu kekalahan bagi Yunita dan anaknya. Padahal menurutnya anaknya sudah belajar dengan cukup serius, bahkan guru lesnya sendiri pernah mengatakan bahwa karena sekolah daring nilai-nilai nanti tidak ada yang bagus, namun kenyataannya terbalik. Banyak nilai-nilai bagus bahkan d atas prediksi dari Yunita. Kembali lagi hal ini tidak menghentikan Yunita dalam membangun ambisi anaknya, menurutnya dengan tidak masuk ke sekolah favorit atau diimpikan mempermudah anaknya dalam bersaing di sekolah. Maka mulai dari semester 1 ini ia dan anaknya telah membuat suatu rencana belajar agar mempermudah nantinya untuk mengejar ranking.

Itulah kisah dari Yunita seorang ibu rumah tangga biasa, kisah dari ambisi dan dedikasi untuk masa depan anak-anaknya. Walau badai pandemi datang menghambat, tapi tidak memutuskan semangat dari Yunita untuk pendidikan anak-anaknya.

#FestivalLiterasiSiswaIndonesia #FELSI2021

Facebook Comments Box
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

Open chat
Kontak Padmin lewat WhatsApp ?