Di tengah derasnya arus digitalisasi dan persaingan pendidikan di Indonesia, masih banyak anak yang berjuang dalam diam. Salah satunya adalah anak-anak dengan disleksia. Apa itu disleksia? Disleksia merupakan gangguan spesifik pada kemampuan membaca dan menulis yang sering disalahartikan sebagai tanda kurangnya kecerdasan. Padahal, menurut Dyslexia Association of Indonesia (2023), diperkirakan 10–15% anak usia sekolah mengalami disleksia dalam berbagai tingkatan serta memiliki rata-rata IQ yang tinggi. Sayangnya, sebagian besar anak disleksia tidak terdiagnosis sejak dini dan tidak mendapatkan dukungan belajar yang sesuai karena keterbatasan biaya terapi.
Kesenjangan ini melahirkan gagasan dari sekelompok pelajar muda di Yogyakarta yang peduli terhadap pendidikan inklusif, di antaranya Hamdatu Hafifah Hanun dan Anindya Gupita Ratri dari SMAN 3 Yogyakarta. Mereka mendirikan SAHULA (Satu Huruf, Satu Langkah), sebuah wirausaha sosial berbasis media pembelajaran ramah disleksia yang dirancang sebagai alternatif terapi multisensori bagi anak disleksia melalui pemberdayaan komunitas. SAHULA tidak hanya berfungsi sebagai produk edukatif, tetapi juga menjadi representasi nyata wirausaha sosial berkelanjutan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, 4, 8, 10, dan 17.
SAHULA menawarkan media pembelajaran ramah disleksia dalam tiga volume progresif berbasis falsafah Jawa. Produk ini disusun berdasarkan metode design thinking dan menggunakan font khusus Open Dyslexic. Di dalamnya terdapat materi singkat berbasis tantangan serta fitur Pojok Kenali Bakatmu. Fitur utama buku SAHULA mencakup terapi multisensori—visual, auditori (melalui audio storytelling via QR code), dan kinestetik (puzzle huruf 3D)—serta permainan interaktif seperti card game susun kata. Media latihan juga dilengkapi mini whiteboard untuk menulis, serta akses gratis ke lebih dari 44 latihan intensif melalui QR code. Buku ini disertai guidebook bagi orang tua sehingga SAHULA tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga sarana mempererat ikatan batin dan emosional antara anak dan orang tua.
Buku SAHULA telah divalidasi oleh para ahli, yaitu dokter spesialis anak dan psikolog klinis tumbuh kembang anak. Berdasarkan uji efektivitas, terjadi peningkatan kemampuan membaca sebesar 83,33% (hasil pre-test dan post-test) pada anak disleksia maupun anak TK/SD yang mengalami kesulitan membaca. Buku SAHULA juga telah terdaftar dalam HAKI dengan nomor EC002025093337.
SAHULA tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga aktif dalam kegiatan penyuluhan seperti webinar, sosialisasi langsung, konten edukatif, pemberdayaan komunitas disleksia, serta kerja sama dengan UMKM dan PKK. Melalui berbagai kegiatan tersebut, SAHULA tidak hanya menjual produk, melainkan juga membangun ekosistem inklusif yang saling mendukung.
Sebagaimana visi SAHULA, yaitu berkontribusi terhadap terwujudnya pendidikan inklusif yang merata dan bermakna bagi setiap anak di Indonesia, diharapkan gerakan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menciptakan solusi atas berbagai permasalahan sosial. Karena perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil.
Kontributor: Hamdatu Hafifah Hanun
Editor: Suhirno
Leave a Comment