Page 101 - Buku Bhakti Padma Bagya
P. 101
hari menjelang subuh, bersama Bu Rini . Saya dekati Bu Isti, saya bilang, “Bu,
dan karyawan honor. kita hanya berdua di sekolah ini yang
Ada juga pengalaman lucu yg tidak memiliki sepatu serupa. Sepatu yang
terlupakan tentang sepatu yang tertu- ada sama saya ini bukan sepatu saya,
kar. Suatu sore, ada rapat di ruang AVA. waktu dipakai rasanya lain”.
Peraturannya, apabila memasuk i ruang Bu isti bilang, “Iya, po?” Sambil
AVA maka harus membuka/melepas melepaskan sepatu yang dipakai. Saya
sepatu. Singkat cerita, selesai rapat bi- mencoba memasang sepatu yang di-
asanya saya, Mbak Fenty, atau Pak Dar- lepas bu Isti. “Ini sepatuku.”, kata saya.
min, ke luar meninggalkan ruang AVA Bu Isti bilang, “Jadi sepatu kita tertu-
paling belakangan, ringkas-ringkas kar?” Akhirnya kami yang ada di ruang
dulu, agar ruang AVA siap dipakai lagi tata usaha tertawa semua. Itulah kisah
di pagi harinya. sepatu yang tertukar. Cerita ini jadi he-
Waktu akan pulang, saya mema- boh karena peristiwanya mirip dengan
sang sepatu, kok rasanya tidak enak di judul sebuah sinetron di televisi ketika
kaki. Saya bilang ke Mbak Fenty, “Se- itu.
patu saya tertukar, Mbak.” Sepatu saya Itulah sekelumit pengalaman yang
serupa sama sepatu Bu Isti. Besok sa- tidak bisa terlupakan di SMA Negeri
jalah ditanya. Paginya, waktu Bu Isti 3 Yogyakarta. Harapan saya, semoga
presensi di ruang tata usaha, saya ta- anggrek-anggrek di pohon-pohon di
nya, “Bu Isti, apa sepatu ibu tertukar?” halaman tengah itu masih ada.
Bu Isti menjawa, “Tidak, ini sepatuku” ***
93

