Page 48 - ANTOLOGI PUISI X IPA 5
P. 48

B e l u m   U s a i



         Semesta,  katanya  ia  yang  penuh  harsa  dan  nirmala.  Namun,
         kala kaki jenjang ini melangkah hanya nestapa dan lara yang
         dirasa.  Tatap  netra  penuh  bayang  juga  rindu  yang  tak  akan
         pernah kuasa. Sang "manu" tanpa jiwa bahkan juga merasanya,
         tetapi  ada  satu  fakta  yang  tak  akan  pernah  berubah  fana.
         Bahwa kita hanya cipta milik Sang Semesta yang penuh akan
         laksana.  Jika  kita  adalah  aksara,  maka  bentala  adalah
         lembarannya. Akan tetapi, berbeda dengan semesta. Ia adalah
         buku dalam setiap kisah juga cerita yang selalu kita torehkan.


         Dalam lokanya kita menuliskan tinta hitam di atas kertas yang
         penuh akan sarat makna. Sampai pada akhirnya naskah tanpa
         enigma  ini  tercipta.  Karya  yang  tampak  renjana  dan  penuh
         akan asa. Walau, ini hanya bagian yang pertama, tetapi kita tak
         tahu apa kata semesta. Mungkin ia tengah merestuinya. Akan

         tetapi,  tak  ada  yang  bisa  menebak  takdir  darinya.  Bahkan
         gumam  dari  dirgantara  belum  tentu  menjadi  wujudnya  dan
         kita hanya bisa mengucap ingin pada angan yang rapuh.


         —Peri tanpa nama, Xirip Eriel.

















                                          46
   43   44   45   46   47   48   49   50   51