Page 110 - Buku Bhakti Padma Bagya
P. 110

an sehari sebelum hari pengumuman.                 Itu  sekelumit  pengalaman  mena-

               Maka masuklah anak itu bersama ibu-             rik bagi saya. Masih banyak yang lain-
               nya ke ruang tamu, dan menangis. Se-            nya. Mungkin kali lain saya ceritakan.
               telah  amplop  saya  serahkan  kepada           Dan, selama 42 tahun bekerja di SMAN
               ayahnya, mereka justru bengong keti-            3 Yogyakarta,  tentu ada hal-hal yang
               ka  amplop  dibuka.  Di  amplop  itu  ha-       membuat sedih atau kecewa. Tapi itu

               nya ada selembar kertas putih yang tak          tidak  banyak,  sebagian  besarnya  hal-
               ada tulisannya apa-apa. Kertas kosong.          hal yang bagi saya sangat menyenang-
               Belum berakhir kebengongan mereka,              kan. Dan saya bangga pernah menjadi

               para murid laki-laki yang datang ber-           bagian dari sekolah ini, karena pernah
               sama  saya,  masuk  ruang  tamu,  “Apa          dan bisa bertemu dengan murid-murid
               kabar,  Om,  Tante?”  Dan,  seketika  itu       yang di kemudian hari menjadi orang-
               tangis  murid  perempuan  tadi  terhen-         orang hebat.
               ti dan berubah menjadi tawa, bahkan                Demikian,  terima  kasih,  Semoga

               terbahak. Ayah dan ibu murid perem-             bermanfaat.  Mohon  maaf  atas  sega-
               puan  tadi  pun  tersenyum.  “Monggo,           la kesalahan yang telah saya perbuat,
               Pak Bedjo, kita pindah ke ruang dalam           dan  juga  apabila  tulisan  pengalaman

               saja,  biar  mereka  di  sini”,  kata  ayah     ini tidak berkenan bagi bapak/ibu Pad-
               dari siswa perempuan itu. Ternyata itu          mabagya,  atau  siapa  saja  yang  sem-
               “prank” ketidaklulusan. Dapat dibayan-          pat  membacanya.  Sekali  lagi,  mohon
               gkan,  betapa  “nakalnya”  para  murid          maaf.
               waktu itu. Tapi sama dengan pengala-               Salam  Padmanaba,  hidup  dan  se-

               man yang pertama, kalau ingat hal itu           hat Padmabagya.
               saya  bisa  senyum-senyum  sendirian.
               Apalagi kalau ketemu dengan para ak-                        *)Sebagaimana diceritakan

               tornya, kami pun terbahak-bahak.                              kepada Pak Agus Santosa






























                                                          102
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115