Page 109 - Buku Bhakti Padma Bagya
P. 109

tanda tidak hadir (absen) pada presen-          ri surat pemberitahuan atas ketidaklu-

               si siswa. Ini saya alami ketika bertugas        lusan. Para siswa sangat tahu tentang
               mengedarkan  daftar  presensi  keliling         hal  itu.  Hari  itu  saya  sudah  selesai
               setiap  kelas.  Tugas  saya  mengeliling-       mengantarkan  surat  pemberitahuan
               kan presensi siswa setiap hari. Bapak           kepada kepada siswa-siswa yang tidak
               atau ibu guru akan melingkari nomor,            lulus. Sepertinya zaman itu, kalau pen-

               atau  memberikan  tanda-tanda  lain             gumuman lulusan, selalu ada bebera-
               pada  presensi  untuk  anak-anak  yang          pa siswa yang tidak lulus. Di perjalanan
               absen atau tidak ada dalam kelas ke-            saya pulang, dihadang oleh beberapa

               tika pelajaran berlangsung. Nah, yang           murid, diajak ke rumah seorang murid
               sering  terjadi,  beberapa  murid  yang         laki-laki.  Sebut  saja  Tedu  (nama  sa-
               absen itu, mencegat saya sekeluar dari          maran).  Sebelum  sampai  rumah  mu-
               ruang kelas untuk melihat tanda di daf-         rid laki-laki itu, saya diajak mampir ke
               tar presensi.  Di sinilah, beberapa siswa       toko alat tulis, membeli amplop. Awal-

               mamaksa  saya  menghapus  tanda  “ti-           nya saya tidak tahu, amplop itu untuk
               dak hadir/tanda absen” yang dibubuh-            apa. Ternyata ke amplop itu dimasuk-
               kan  oleh  guru.  Inilah  pengalaman            kan selembar kertas, yang entah dituli-

               yang  sebenarnya  mengesalkan  ketika           si apa. Giliran berikutnya, saya diminta
               itu terjadi. Betapa tidak, saya itu ingin       membawa  amplop  itu,  dan  bersama
               melaksanakan tugas dengan baik, tapi            mereka  mendatangi  rumah  seorang
               para murid “nakal” itu memaksa saya             murid perempuan yang saya lupa na-
               dengan  ancaman.    Barangkali  kare-           manya. Saya dibonceng dengan motor

               na  para  murid  ketika  itu  berasal  dari     oleh salah seorang murid. Sepeda saya
               keluarga-keluarga  yang  berada,  se-           ditinggal di rumah Mas Tedu.
               hingga  seperti  itu.  Tetapi  sebenarnya          Sesampai di TKP, saya diminta me-

               mereka baik.  Setelah murid-murid itu           nuju rumah itu sendiri. Para murid laki-
               lulus dan kembali bertemu di sekolah            laki itu sembunyi entah di mana, tetapi
               ketika reuni atau kegiatan alumni lain-         tetap mengamati saya. Saya pun men-
               nya,  kejadian yang dulu mengesalkan            getuk  pintu,  dibukakan  oleh  ayahnya
               itu  menjadi  hal  yang  lucu  dan  sangat      murid yang punya rumah, saya diper-

               diingat  oleh  mantan  murid  dan  saya,        silakan  duduk,  kemudian  saya  men-
               dan tentu saja menjadi kenangan yang            genalkan  diri  bahwa  saya  Pak  Bedjo
               menyenangkan.                                   dari SMA 3. Rupanya murid perempuan

                   Kedua,  dipaksa  “ngeprank”  siswa          yang  kami  datangi  tahu  kedatangan
               ketika lulusan. Waktu itu akan diumu-           saya, dan mengira saya mengantarkan
               mkan  hasil  ujian,  adalah  kebiasaan          pemberitahuan ketidaklulusan. Seperti
               bahwa sehari sebelum hari pengumu-              kebiasaan pada waktu itu, murid yang
               man, siswa yang tidak lulus akan dibe-          tidak  lulus  diberi  surat  pemberitahu-




                                                          101
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114