Page 31 - PADSTORY-X IPA 4
P. 31

Puteri Ratna Sari terduduk, lega. Matanya berbinar, pipinya kemerahan.

             Air  mata  bahagia  mengalir  dari  kedua  bola  matanya.  Dengan  riang,  ia
             berkata,  “Terima  kasih  banyak,  Tuan!  Bagaimana  cara  saya  untuk
             membalas jasa anda?”


             “Tidak  usah,  saya  tak  mengharapkan  imbalan  sedikit  pun.  Saya  hanya

             ingin menolong.”


             “Saya  bersikeras,  Tuan.  Tuan  Syah  Peri  telah  menyelamatkan  negeri

             ini.”


             “Kalau  begitu,  jadilah  istri  saya.”  Tanpa  disadari,  kata-kata  tersebut
             keluar dari bibir Syah Peri tanpa ia pikirkan.



             “Eh?”  Rona  kemerahan  memenuhi  wajah  Puteri  Ratna  Sari.  Kepalanya
             sedikit  menunduk,  tatapannya  sayu.  Tersipu  malu-malu,  layaknya
             tanaman putri malu ketika disentuh.



             “Ah, tak masalah jika anda tak mau. Sa, saya hanya—“


             “Baiklah.”



             “Eh?” Kali ini, giliran Syah Peri yang tertegun. Ia sedikit tak menyangka
             bahwa       Puteri      Ratna        Sari     menerima         lamarannya.          Sebelum
             rasionalitasnya kembali, Puteri Ratna Sari memegang pundaknya.



             “Telingamu tak salah dengar, suamiku,” sahut Puteri Ratna Sari dengan
             senyum secerah sang mentari.
   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36