Page 29 - ANTOLOGI PUISI X-7
P. 29
Tempa
Raden Mas Adam Adinata Nayottama
Fajar mulai memancarkan parasnya
Indah elok paras menghampiri fana ini
Cuitan burung bersorak-sorai
Iringi terbitnya sang fajar
Sontak diriku tergugah dari kelengahan ini
Tanda bayang-bayangku sudah mulai menghilang
Bayang nan seakan-akan membuat daksaku melemah
Nestapa ini hilang tak berbekas
Api membara timbul dalam diriku
Menggugah gairah ‘tuk mengepal dambaanku
Setetes demi setetes kan kupijak
Takkan kupijak selain tetesan itu
Kurasakan semua kepahitan ini
Bak tempaan pedang yang tak pernah mengeluh
Tiap jam tiap menit tiap detik
Semua tekanan dirasakan pedang itu
Begitu juga diriku yang harus siap menerima tempaan buntara ini
14

