Page 52 - ANTOLOGI PUISI X IPA 6
P. 52

Cermin

                            Pradnyaparamitha Galuh M. (31)


            Gadis itu terdiam dalam sunyi
            Hening menatap parasnya sendiri
            Figur yang sangat ia kenali
            Tersenyum sinis sekali lagi

            Bayang-bayang tirani
            Terus mencemooh dan menyeringai
            Betapa rendah harga diri
            Di mata seorang laki-laki

            Kehampaan dan rasa tak berharga
            Menghantui tiap relung ingatannya
            Salahkah aku lahir bagai bahara?
            Tak pantaskah aku untuk kasih mereka?

            Tak seorang pun insan manusia
            Terus-menerus sanggup menderita
            Dalam kalbunya gadis itu bertanya
            Bukankah lebih baik aku tak pernah ada?

            Hidup hanya permainan tanpa belas kasih
            Berisi malapetaka yang mengundang perih
            Hal termudah yang didamba dengan lirih
            Menjadi sesuatu yang paling sulit diraih





                                                                          39
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57