Page 42 - ANTOLOGI PUISI X IPA 6
P. 42

Jalan Gelap
                             Erland Raditya Bimantara (12)


            Petang menjelang malam
            Bulan mengucap salam
            Heran tiada tersirat dengan makhluk hina jalanan
            Jabat tangan yang menjadi awal jembatan menuju lembah kelam
            sudah lama
            Meninggalkan sahabat lamanya
            Sungguh demi segepok lembaran yang mulia
            Bersusah payah merogoh dirinya
            Di balik segala gemulai yang ia ciptakan

            Aku
            Hanya anak seorang pemulung
            Ayahku bekerja tanpa insan lain
            Demi menghibur wajah hitam ini yang murung
            Tak seperti engkau yang selalu menghibur
            Tetapi melukiskan sedih pada wajah penuh kerutan

            Wanita-wanita yang sekarang hanya tersisa kenangannya
            Bertarung hebat menaikkan derajat para wanita lainnya
            Demi wanita! Demi wanita yang lahir dari yang dilahirkan
            Berjuang demi menjadi emas yang tak dapat merasakan pahitnya
            karat





                                                                          29
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47