Page 62 - ANTOLOGI PUISI X-7
P. 62

Tanda Tanya

                               Raizza Talitha Araminta


         Di meja hijau itu, aku kembali lagi
         Kursi-kursi kayunya sudah penuh diduduki
         Semua peran di dalamnya lengkap terisi
         Untukku disisakan satu kursi,
         dengan papan kayu bertulis: Terdakwa hari ini

         Hukuman dari sang Hakim sederhana:
         Nyalakan lenteranya untuk selamanya
         Tapi aku hanya bisa termangu
         Lidahku kelu
         Padahal yang ingin kuucapkan hanya satu,
         bagaimana dengan lenteraku?

         Sang Hakim kemudian pergi tanpa diminta
         Menyisakan aku dengan lenteranya
         Sang angin berbisik: Pecahkan saja!
         Tapi untuk apa, nanti aku dianggap durhaka


         Dan meja hijau itu berangsur-angsur kembali
         menjadi meja kayu
         Di sebuah ruang makan yang tak lagi hangat
         Di rumah tempat aku dibesarkan


         Tanda tanya
         Mungkin impian bagiku hanya sekedar tanda tanya
         Tak bisa digapai, karena tuntutan yang ada




                                                                          47
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67