Page 18 - ANTOLOGI PUISI X IPA 1
P. 18

Gelap




                                 Janu Pasha Shandy Putra
                     Daun daun berguguran menemani tangisanku
                         Telingaku hanya mendengar kesunyian
                                  Penglihatanku rabun
                                    Nafasku tersedak
                             Kuharap ini hanya mimpi senja
                                     Tatapanku sayu
                            Amarah, iri, dengki menyelimutiku
                      Duri-duri tajam menusuk tiap jengkal tubuhku
                Wahai Tuhan mengapa Engkau menghukumku seperti ini?
                           Bukankah aku sudah bekerja keras?
                        Apakah ini yang dinamakan kegagalan?
                          Mengapa orang menyuruhku bangkit?
                       Jantungku terlalu layu untuk bangkit, Tuhan
                           Kedua kakiku menolak untuk berdiri

                          Rantai mengikatku untuk terus tunduk
                                          Aneh
                                Tiba-tiba gundahku pergi
                               Gelap, dingin, sepi, hening
                                    Aku ada dimana?
                             Mendadak rasa sakit ini hilang
                              Cahaya dimataku pun pudar
                              Beberapa saat ku termenung
                          Kulihat seberkas cahaya dihadapanku
                               Apakah ini adalah harapan
                                      Ah sudah lah
                   Hati ini sudah terlalu gelap untuk menerima cahaya
           9
   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23