Page 4 - ANTOLOGI PUISI X-7
P. 4
Pengantar Perjalanan
Kala kembang musim semi semerbak, biar kami terjaga dalam balutan
harum Sang Dewi. Mantra-Nya menggantung di awang-awang,
meniupkan ruh, sukmanya puspawarna. Bak peri-peri hutan di balik pilar
bercabang yang menjulang, tengah diajari ibunya terbang. Kencangkan
sabuk pengaman, lebarkan kepak, biar kami melayang hingga ke sisi lain
negeri.
Mengudara kami beralaskan daun lontar ‘tuk torehkan kisah kupu-kupu
di setiap hamparan bunga yang kami lewati. Pada satu masa ia
mendekap gelap, namanya tetap gemerlap dalam caya malam. Pun saat
dahaga berjumpa batang air di pelosok rimba, kami tuangkan butir-butir
harap dalam tiap riaknya. Pada satu masa ia mengering, endapan asa
masih tersisa di hilir. Kami peri kecil, hanya pejamkan mata untuk tahu
ujung semesta. Tapi kami ialah satu. Tatkala pendar meredup, sayap
kami kalahkan binar takut.
Maka lagi-lagi kami lebarkan kepak ke penjuru negeri. Menuju
pengembaraan mimpi dalam kurun bernama abadi.
— Peri kecil yang bermimpi,
Xhef Gusteau.

