Page 3 - ANTOLOGI PUISI X IPA 5
P. 3
S u r a t K e c i l
Cakrawala pernah berkata bahwa kita hanya daksa pada setiap
kata dari Sang Semesta. Makhluk merta yang penuh akan
enigma, serta suka berkelana. Dari-Nya kita memang tanpa
laksana, tetapi penuh akan takdir yang akan terlaksana. Kaki
tanpa tumpuan dan atma yang penuh akan sarat tujuan. Semua
punya cerita. Mulai dari arutala yang berkelana di sekitar
bumantara hingga bentala yang penuh akan fatamorgana.
Dersik bahkan kian terdengar kala mesin ketik ikut
bergumam. Katanya kita adalah makhluk yang paling nirmala,
tapi juga milik nestapa. Aksara bahkan selalu tertoreh pada
lembaran buku usang milik kita. Penanya menari, melukiskan
kisah yang tak akan pernah menjadi fana. Walau, pada
nyatanya waktu hanya akan penuh dengan asrar dan kita tak
akan pernah bisa menggangu gugatnya. Namun, tenang saja
karena kita masih bisa mengenangnya. Dengan tangan yang
tak tahu arah kita bisa menulisnya pada selembar kertas
penuh akan makna. Merangkai setiap kalimat juga aksara di
dalamnya hingga menjadi sebuah pesan yang menceritakan
eunoia dari kisah tentang "manu" tanpa jiwa.
—Peri di tengah andala, Xirip Eriel.
1

